Terdapat banyak persamaan antara konseling dan
psikoterapi sehingga:
konseling dan psikoterapi tidak dapat dibedakan secara jelas,
konselor sering mempraktekkan apa yang oleh psikoterapis
dipandang sebagai psikoterapi,
koterapis sering mempraktekkan apa yang oleh konselor
dipandang sebagai konseling.
Perbedaan Konseling
dan Psikoterapi
1.Konseling pada umumnya menangani orang normal, sedangkan
psikoterapi terutama menangani orang yang mengalami ganguan psikologis atau
sering disebut sebagai psikopatologis.
2.Konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi sadar dan
berjangka pendek, sedangkan psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif,
berorientasi tak sadar, dan berjangka panjang.
3.Konseling lebih bersifat situasional contohnya cemas ketika akan
menghadapi sidang skripsi, sedangkan psikoterapi itu mengalami kecemasan.
4.Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang
terbatas dan konkret, sedangkan psikoterapi sengaja dibuat lebih ambigu
dan memiliki tujuan yang berubah-ubah.
Psikoterapi adalah proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru atau akan mengalami perceraian.
Umumnya psikoterapi dianjurkan bila seseorang bergulat dengan kehidupan, masalah hubungan atau kerja atau masalah kesehatan mental tertentu, dan isu-isu atau masalah yang menyebabkan banyak individu yang besar rasa sakit atau marah selama lebih dari beberapa hari. Ada pengecualian untuk aturan umum, tetapi sebagian besar, tidak ada salahnya untuk pergi ke terapi bahkan jika Anda tidak sepenuhnya yakin Anda akan mendapat manfaat dari itu. Jutaan orang mengunjungi psikoterapis setiap tahun, dan sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa orang yang melakukannya manfaat dari interaksi. Kebanyakan terapis juga akan jujur dengan Anda jika mereka yakin Anda tidak akan mendapatkan keuntungan atau pendapat mereka, tidak perlu psikoterapi.
Psikoterapi modern sangat berbeda dengan versi Hollywood. Biasanya, kebanyakan orang melihat terapis mereka sekali seminggu selama 50 menit. Untuk obat-janji saja, sesi akan bersama seorang perawat kejiwaan atau psikiater dan cenderung terakhir hanya 15 sampai 20 menit. Janji ini pengobatan cenderung dijadwalkan sekali per bulan atau sekali setiap enam minggu.
Kebanyakan psikoterapi cenderung berfokus pada pemecahan masalah dan berorientasi pada tujuan. Itu berarti pada awal perawatan, Anda dan terapis Anda memutuskan perubahan spesifik yang Anda ingin lakukan dalam kehidupan Anda. Tujuan ini akan sering dipecah ke dalam tujuan dicapai lebih kecil dan dimasukkan ke dalam rencana pengobatan formal. Sebagian psikoterapis hari bekerja dan fokus pada membantu Anda untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini dilakukan hanya melalui berbicara dan membahas teknik yang dapat menyarankan terapis yang dapat membantu Anda lebih menavigasi daerah-daerah yang sulit dalam kehidupan Anda. Seringkali psikoterapi akan membantu mengajar orang tentang gangguan mereka juga, dan menyarankan mekanisme bertahan tambahan bahwa orang tersebut dapat menemukan lebih efektif.
Kebanyakan psikoterapi hari ini adalah jangka pendek dan berlangsung kurang dari setahun. Kebanyakan gangguan mental yang umum sering dapat diatasi dalam waktu tersebut, sering dengan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan .
Psikoterapi yang paling berhasil ketika individu memasuki terapi sendiri dan memiliki keinginan kuat untuk berubah. Jika Anda tidak ingin mengubah, perubahan akan lambat datang. Ubah berarti mengubah aspek-aspek kehidupan Anda yang tidak bekerja untuk Anda lagi, atau berkontribusi masalah atau isu yang sedang berlangsung. Hal ini juga yang terbaik untuk menjaga pikiran yang terbuka sedangkan di psikoterapi, dan bersedia untuk mencoba hal baru yang biasanya Anda tidak dapat melakukannya. Psikoterapi sering sekitar menantang seseorang ada serangkaian keyakinan dan sering, seseorang sangat diri. Hal ini paling berhasil apabila seseorang mampu dan mau untuk mencoba melakukan hal ini dalam lingkungan yang aman dan mendukung.
Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan. Menurut Parsudi
Suparlan (2002) akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu
kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia.
Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk
suatu ideologi yang disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme
tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara sukubangsa atau
kebudayaan sukubangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena
multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan.
Ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau akan mengulas berbagai
permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan
dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti
dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu
produktivitas.
Multikulturalisme adalah
sebuah ideologi dan sebuah alat untuk meningkatkan derajat manusia dan
kemanusiaannya. Untuk dapat memahami multikulturalisme diperlukan landasan
pengetahuan yang berupa bangunan konsep-konsep yang relevan dan mendukung
keberadaan serta berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan manusia.
Bangunan konsep-konsep ini harus dikomunikasikan di antara para ahli yang
mempunyai perhatian ilmiah yang sama tentang multikulturalisme sehingga
terdapat kesamaan pemahaman dan saling mendukung dalam memperjuangkan ideologi
ini. Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah,
demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam
perbedaan yang sederajat, sukubangsa, kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa,
keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM,
hak budaya komuniti, dan konsep-konsep lainnya yang relevan.
Selanjutnya Suparlan
mengutip Fay (1996), Jary dan Jary (1991), Watson (2000) dan Reed (ed. 1997)
menyebutkan bahwa multikulturalisme ini akan menjadi acuan utama bagi
terwujudnya masyarakat multikultural, karena multikulturalisme sebagai sebuah
ideologi akan mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik
secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam model multikulturalisme ini,
sebuah masyarakat (termasuk juga masyarakat bangsa seperti Indonesia) mempunyai
sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya
seperti sebuah mosaik. Di dalam mosaik tercakup semua kebudayaan dari
masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat
yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan seperti sebuah mosaik. Dengan
demikian, multikulturalisme diperlukan dalam bentuk tata kehidupan masyarakat
yang damai dan harmonis meskipun terdiri dari beraneka ragam latar belakang
kebudayan.
Mengingat pentingnya
pemahaman mengenai multikulturalisme dalam membangun kehidupan berbangsa dan
bernegara terutama bagi negara-negara yang mempunyai aneka ragam budaya
masyarakat seperti Indonesia, maka pendidikan multikulturalisme ini perlu
dikembangkan. Melalui pendidikan multikulturalisme ini diharapkan akan dicapai
suatu kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam undang-undang
dasar.
Bentuk-bentuk Multikulturalisme
a. Multikulturalisme Isolasi Masyarakat jenis ini biasanya menjalankan hidup
secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang saling mengenal satu sama lain.
Kelompok-kelompok tersebut pada dasarnya menerima keragaman, namun pada saat
yang sama berusaha mempertahankan budaya mereka secara terpisah dari masyarakat
lain umumnya.
b. Multikulturalisme Akomodatif Masyarakat ini memiliki kultur dominan, yang
membuat penyesuaian-penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan
kultural kaum minoritas. Masyarakat multicultural akomodatif merumuskan dan
menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara
kultural, serta memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk
mengembangkan/mempertahankan kebudayaan mereka. Sebaliknya, kaum minoritas
tidak menentang kultur dominan.
c. Multikulturalisme Otonomi Dalam model ini kelompok-kelompok kultural utama
berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan
menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif dapat
diterima. Prinsip-prinsip pokok kehidupan kelompok-kelompok dalam multikultural
jenis ini adalah mempertahankan cara hidup mereka masing-masing yang memiliki
hak-hak sama dengan kelompok dominan. Mereka juga menentang kelompok dominan
dan berusaha menciptakan suatu masyarakat di mana semua kelompok bisa eksis
sebagai mitra sejajar.
d. Multikulturalisme Kritikal/Interaktif Jenis multikulturalisme ini terjadi pada
masyarakat plural di mana kelompok-kelompok yang ada sebenarnya tidak terlalu
menuntut kehidupan otonom, akan tetapi lebih menuntut penciptaan kultur
kolektif yang menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka. Kelompok
dominan dalam hal ini tentunya menolak, bahkan berusaha secara paksa menerapkan
budaya dominan mereka dengan mengorbankan budaya kelompok-kelompok minoritas.
e. Multikulturalisme Kosmopolitan Kehidupan dalam multikulturalisme jenis ini
berusaha menghapus segala macam batas-batas kultural untuk menciptakan
masyarakat yang setiap individu tidak lagi terikat pada budaya tertentu. Bisa
juga sebaliknya, yaitu tiap individu bebas dengan kehidupan-kehidupan lintas
kultural atau mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.
Akulturasi adalah
penggabungan dua budaya yang berbeda yang merupakan hasil dari proses
interaksi. Istilah akulturasi atauculture contact(kontak kebudayaan) mempunyai pengertian proses sosial yang timbul bila
suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu di hadapkan dengan
unsur-unsur dari kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur
kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan di olah ke dalam kebudayaan
sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi akulturasi
Terjadinya akulturasi
adalah perubahan sosial budaya dan struktur sosial serta pola budaya dalam
suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi
sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan
hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.
Secara garis besar, ada
dua faktor yang menyebabkan akulturasi dapat terjadi, yaitu:
Faktor Intern
Bertambah
dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
Adanya
penemuan baru.Discovery ---penemuan ide atau alat baru
yang sebelumnya belum pernah ada. Invention--- penyempurnaan penemuan
baru.Innovation ---pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan
dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti
yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh kesadaran masyarakat akan
kekurangan unsur dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota
masyarakat.
Konflik
yang terjadi dalam masyarakat.
Pemberontakan
atau revolusi
Faktor Ekstern
Perubahan
alam
Peperangan
Pengaruh
kebudayaan lain melaluidifusi(penyebaran kebudayaan),akulturasi(pembauran antar budaya yang
masih terlihat masing-masing sifat khasnya),asimilasi(pembauran antar budaya yang
menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak
lagi).
Faktor-faktor yang
memperkuat potensi akulturasi dalam taraf individu adalah faktor-faktor
kepribadian seperti toleransi, kesamaan nilai, mau mengambil resiko, keluesan
kognitif, keterbukaan dan sebagainya. Dua budaya yang mempunyai nilai-nilai
yang sama akan lebih mudah mengalami akulturasi dibandingkan dengan budaya yang
berbeda nilai.
Akulturasiadalah suatuproses sosialyang timbul manakala suatu kelompokmanusiadengankebudayaantertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan
asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam
kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu
sendiri.
Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan
bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya.
Menurut Koentjaraningrat, akulturasi adalah suatu
proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan
tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan
sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima
dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian
kebudayaan itu sendiri.
Sedangkan Gillin & Gillin
mendefinisikan akulturasi sebagai proses dimana masyarakat-masyarakat yang
berbeda-beda kebudayaannya mengalami perubahan oleh kontak yang sama dan
langsung, tetapi dengan tidak sampai kepada pencampuran yang komplit dan bulat
dari kedua kebudayaan itu.
Ada dua faktor yang menyebabkan akulturasi dapat terjadi, yaitu :
A.Faktor Intern (dalam),
antara lain
•Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran,
kematian, migrasi)
•Adanya Penemuan Baru:
1.Discovery :
penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
2.Invention :
penyempurnaan penemuan baru
3.Innovation /Inovasi :pembaruan
atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga
menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh
: kesadaran masyarakat akan kekurangan unsure dalam kehidupannya, kualitas ahli
atau anggota masyarakat
•Konflik yang terjadii dalam masyarakat
•Pemberontakan atau revolusi
B.Faktor Ekstern (luar),
antara lain:
Perubahan alam
Peperangan
Pengaruh kebudayaan lain melalui
difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi (pembauran antar budaya yang masih
terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang
menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi.
Relasi
Internakultural adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang
yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau
sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Menurut Stewart L.
Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang
yang berbeda budaya (baik dalam arti ras,etnis, atau
perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang
dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Internakultural ini sendiri dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam
pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol)
yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia
dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau
diperjuangkan
2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek
yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi
dalam proses pemberian makna yang sama
3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat
karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita
4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari
kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara
Kulturasi dan Internakultural (komunikasi
antar budaya) memiliki relasi atau hubungan yang saling berpengaruh, karena
sesuai dengan pengertian akulturasi yang telah dijelaskan diatas, akulturasi
ini merupakan bagaimana suatu kebudayaan menerima kebudayaan asing tanpa
menghilangkan kebudayaan aslinya, proses penerimaan budaya ini tidak akan
terjadi tanpa adanya komunikasi antar budaya (internakulurasi), karena tanpa
adanya komunikasi maka tidak akan terjadi yang namanya pertukaran budaya, dalam
komunikasi ini akan terjadi proses saling mempengaruhi antara satu budaya
dengan budaya lainnya, sehingga terjadilah suatu akulturasi pada suatu
kebudayaan
Transmisi budaya
merupakan kegiatan pengiriman atau penyebaran pesan dari generasi yang satu ke
generasi yang lain tentang sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sulit
diubah.
Beberapa
bentuk dari transmisi budaya :
·Enkulturasi
mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya)
ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari
kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan
melalui gen.
Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan
guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.
·Akulturasi
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang
dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Misalnya,
bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika
Serikat (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan
dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara
berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari
kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut
berubah.
Pengaruh
Enkulturasi terhadap perkembangan psikologi individu
Enkulturasi
mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui proses belajar dan
penyesuaian alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan
peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Enkulturasi terjadi karena
lingkungan yang menerapkan aturan-aturan tersebut. Sehingga individu itu
sendiri menyesuaikan.
Pengaruh
Akulturasi terhadap perkembangan psikologi individu
Akulturasi
mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui suatu proses sosial yang
timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan
dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Akulturasi terjadi karena sekelompok
orang asing yang berangsur-angsur mengikuti cara atau peraturan di dalam
lingkup orang Indonesia.
Awal Pengembangan
dan Pengasuhan
Transmisi
budaya dapat terjadi sesuai dengan awal pengembangan dan pengasuhan yang
terjadi pada masing-masing individu. Dimana proses seperti Enkulturasi ataupun
Akulturasi yang mempengaruhi perkembangan psikologis individu tergantung
bagaimana individu mendapat pengasuhan dan bagaimana lingkungan yang
diterimanya. Individi tidak mampu berdiri sendiri, melainkan hidup dalam
hubungan antar sesama individu. Dengan demikian dalam hidup dan kehidupannya
manusia selalu mengadakan kontak dengan manusia lain. Karena itu manusia
sebagai individu juga merupakan makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat.
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi
individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai
hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan
biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam
ubahan-ubahan tersebut.
Ada beberapa devinisi menurut para ahli tentang psikologi
lintas budaya :
·Menurut Segall, Dasen dan Poortinga, psikologi lintas-budaya
adalah kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus
memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh
kekuatan-kekuatan sosial dan budaya.
·Definisi lainnya diberikan oleh Herskovits, yang
mendefinisikan budaya sebagai hasil karya manusia sebagai bagian dari lnnya
(culture is the human-made part of the environment). Artinya segala sesuatu
yang merupakan hasil dari perbuatan manusia, baik hasil itu abstrak maupun
nyata, asalkan merupakan proses untuk terlibat dalam lingkungannya, baik
lingkungan fisik maupun sosial, maka bisa disebut budaya. Tentu saja definisi
ini juga sangat luas. Namun definisi tersebut digunakan oleh Harry C. Triandis,
salah seorang pakar psikologi lintas budaya paling terkemuka, sebagai dasar
bagi penelitian-penelitiannya (lihat Triandis, 1994) karena definisi tersebut
memungkinkannya untuk memilah adanya objective culture dan subjective culture.
Budaya objektif adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk nyata, seperti alat
pertanian, hasil kesenian, rumah, alat transportasi, alat komunikasi dan
sebagainya. Sedangkan budaya subjektif adalah segala sesuatu yang bersifat
abstrak misalnya norma, moral, nilai-nilai,dan lainnya.
ΓΌTujuan Mempelajari Psikologi Lintas
Budaya
Tujuan dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari
persamaan dan perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalaam
berbagai budaya dan kelompok etnik.
ΓΌHubungan Psikologi Lintas Budaya dengan
Ilmu lain
Psikologi lintas budaya sama seperti dengan Psikologi budaya
mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku
manusia. Namun psikologi lintas budaya tidak hanya mempelajari faktor budaya
dengan prilaku tetapi faktor antar budaya atau perbedaan budaya yang
mempengaruhi prilaku manusia.
Psikologi Sosial mempelajari tingkah laku manusia dalam
berhubungan dengan masyarakat sekitarnya. Psikologi lintas budaya juga sama
mempelajari individu dengan masyarakat selain itu juga mempelajari individu
dengan atar masyarakat yang berbeda.Ruang Lingkup Antropologi psikologi sama dengan pengakajian secara psikologi
lintas budaya (cross cultural) mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya.
Meliputi masalah-masalah sebagai berikut
Hubungan struktur sosial dan
nilai-nilai budaya dengan pola pengasuhan anak pada umumnya.
Hubungan antara struktur kepribadian
rata dengan sistem peran (role system) dan aspek proyeksi dari dari kebudayaan.
ΓΌPerbedaan Psikologi Lintas Budaya dengan Psikologi Indigenous:
Indigenous
Psychology merupakan suatu masalah yg di kaji
melaui konteks kultural/budaya yg dapat memunculkan suatu teori untuk dapat
menelaah suatu tradisi dari setiap budaya masyarakat timur .
ΓΌPerbedaan Psikologi Lintas Budaya dengan Antropologi.
Antpologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang
mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.
ΓΌPerbedaan Psikologi Lintas Budaya dengan Psikologi
Budaya.
Psikologi Budaya ialah memahami keragaman budaya yang
ada di dunia sekaligus dampak budaya tersebut terhadap kelangsungan masyarakat
sosial dalam lingkup budaya tertentu. Sementara kalau dalam Psikologi Lintas
Budaya, pembahasannya seputar pengaruh lingkungan budaya terhadap perilaku
individu. Fungsi dari lintas budaya sendiri kalau menurut saya untuk
merentangkan toleransi kita ketika berhadapan dengan anggota masyarakat dari
budaya yang berbeda dengan kita sendiri.